Berita Kesehatan
MORNING sickness bagi ibu hamil tentu menyiksa. Kalau sudah seperti itu, obat antimual sering dijadikan “senjata pamungkas” untuk menekan pusat kendali mual dan muntah yang ada di otak. Sebenarnya, kapan ibu hamil harus dan tidak harus minum obat antimual?
Berikut ini ulasan dr. Adi Wahyuono, SpOG dari RS Thamrin Salemba, Jakarta, sebagaimana dilansir Mom & Kiddie.
Kehamilan trimester pertama – minggu keempat sampai ketujuh - identik dengan morning sickness yang ditandai mual, mutah, sakit kepala, dan lain-lain. Namun, meski disebut "morning bukan berarti kondisi ini hanya terjadi pada pagi hari saja. Rasa mual ini bisa terjadi juga pada siang, sore, malam, bahkan bisa sepanjang hari. Dan biasanya akan mereda dengan sendirinya pada minggu ke-14.
Perlu diketahui, mual muntah pada awal kehamilan wajar terjadi, diakibatkan adanya perubahan hormonal. Berkisar 0,3 – 1 persen ibu hamil mengalami hyperemesis gravidarum yang ditandai mual dan muntah hebat dan menetap, kekurangan cairan (dehidrasi), penurunan berat badan lima persen atau lebih, penurunan kadar elektrolit, dan terdapat keton dalam urine (menandakan dehidrasi berat). Jika Anda termasuk salah satu dari bagian persentase tersebut, obat anti mual bisa diandalkan.
Cara kerja obat antimual
Sesuai dengan fungsinya, obat antimual dikonsumsi untuk mengurangi rasa mual. Adapun cara kerjanya yaitu langsung menekan daerah pusat mual muntah (chemoreceptor trigger zone)/CTZ di otak. Karena ditekan, sensitivitasnya juga diturunkan sehingga reaksi mual muntah berkurang. Ada juga obat antimual yang bekerja untuk mempercepat pengosongan makanan dan minuman dari lambung ke usus halus agar kerja lambung tidak terlalu terbebani sehingga aliran makanan lebih cepat.
Umumnya, obat antimual tersedia dalam bentuk tablet, injeksi/suntikan, atau dua bentuk sekaligus, tablet dan suntikan. Obat antimual lewat suntikan biasa diberikan kepada BuMil yang sedang dirawat di fasillitas kesehatan seperti rumah sakit atau klinik. Untuk dosis, baik tablet maupun suntikan diberikan dua–tiga kali sehari.
Jika ibu hamil hanya mengalami mual muntah pada pagi hari, cukup minum obat saat pagi harinya saja. Dan selama tidak ada keluhan tidak perlu konsumsi obat lagi. Bagi BuMil yang memiliki riwayat sakit lambung, gastritis atau mag, kadang dokter menambahkan atau mengombinasikan dengan obat sakit mag. Awalnya dokter akan memberikan vitamin B6 yang berkhasiat mengurangi rasa mual. Jika pemberian vitamin tersebut dapat mengatasi mual muntahnya maka tidak perlu diberikan obat lain.
Amankah bagi ibu hamil dan janin?
Bila ditanya apakah setiap ibu hamil yang mengalami mual muntah harus minum obat antimual, dr. Adi Wahyuono, SpOG mengatakan bergantung dari kondisi ibu hamil apakah terganggu atau tidak dengan kondisi tersebut. Selama mual muntah masih dalam batas normal, masih bisa makan sedikit, dan aktivitas tidak terganggu, baik ibu hamil pekerja maupun yang di rumah tidak harus minum obat. Lain halnya jika dalam tiga hari ibu hamil sama sekali tidak bisa minum dan makan serta tanda-tanda lainnya seperti disebutkan pada awal pembahasan, maka ibu hamil terpaksa harus dirawat.
Ingat moms, prinsipnya semua jenis obat mual aman bagi ibu hamil dan janin, asal dikonsumsi tidak melebihi dosis toksik – dosis yang menimbulkan gejala keracunan. Bila sudah mengonsumsi obat anti mual, rasa mual tidak berkurang, perlu dicari penyebabnya. Mungkin saja ada kelainan penyakit atau dipicu masalah psikis, seperti ibu hamil merasa kurang diperhatikan, atau tidak bisa menerima kehamilannya. Jadi sebelum dokter memberi obat harus cek dulu apakah hanya mual muntah biasa atau ada penyebab lain. Bila menyangkut psikologis, tentu BuMil tidak perlu mengatasi mual dengan obat-obatan.
Kelola pola makan
Perubahan tubuh yang terjadi saat hamil, umumnya terjadi karena kehamilan itu sendiri. Selama menyadari bahwa hal itu terjadi karena kehamilan, maka berat- ringannya mual muntah yang dialami dapat diatasi sendiri. Sehingga dianjurkan bagi ibu hamil untuk melakukan cara berikut, yaitu:
- Ibu hamil harus dapat mengelola pola makan yaitu makan dengan porsi kecil tapi sering (small frequent meals/diet) misal, empat sampai enam kali sehari, memilih makanan dengan karbohidrat kompleks agar tidak kekurangan kalori, dan cukup minum supaya tidak dehidrasi. Tidak harus makan nasi, tapi sumber karbohidrat lain dapat dipilih seperti crackers, biskuit, kentang, dan lain-lain. Yang penting makan jangan terlalu kenyang.
- Minum disarankan yang mengandung kalori dan hangat contohnya teh manis hangat dan jangan menggunakan pemanis buatan. Minum juga sedikit-sedikit tapi sering jangan langsung banyak supaya cairan tidak mendadak banyak di lambung yang dapat memicu muntah.
- Hindari makanan yang memicu gas dan asam lambung atau mengganggu saluran pencernaan seperti kol, nangka, makanan pedas, dan lainnya. Pilih makanan rendah lemak, rendah minyak, dan bergizi seimbang dengan konsumsi buah dan sayur yang cukup.
0 Response to "Obat Antimual, Amankah?"
Post a Comment