Berita Kesehatan
DAMPAK buruk dari kebiasaan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) bisa mengancam nyawa balita. Balita mudah terserang diare dan pneumonia dari pencemaran tinja melalui udara.
Berdasarkan data riset UNICEF dan WHO, tercatat lebih dari 370 balita Indonesia meninggal akibat perilaku buruk BABS. Hal ini membuat UNICEF menciptakan kampanye gerakan melawan tinja untuk mengurangi angka kematian.
WHO mencatat 88 persen angka kematian akibat diare yang disebabkan oleh kesulitan mengakses air bersih dan keterbatasan sistem sanitasi. Bukan itu saja, BABS juga memperbesar risiko pertumbuhan fisik anak-anak menjadi terbatas.
Agar tidak semakin memperbanyak angka kematian, semua pihak harus sadar diri membuat sanitasi dan toilet layak, seperti yang sudah dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk pendirian Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
"Kami sangat mengapresiasi program pemerintah STBM. UNICEF percaya dengan adanya program itu anak-anak bisa tumbuh sehat dan memiliki pola hidup bersih," terang Ketua Program Water, Sanitation and Hygiene (WASH) UNICEF Indonesia Dr Aidan Cronin saat jumpa pers puluncuran Kampanye Tinju Tinja Untuk Perangi BABS di Artotel, Jalan Sunda, Jakarta, Rabu (19/11/2014).
Menurut Lilik Trimaya selaku Program WASH UNICEF Indonesia, dalam menjalankan komitmen ini butuh peran serta masyarakat dan banyak pihak terkait, agar semua cita-cita menurunkan angka kematian cepat terwujud. Semua orang harus memiliki jalan pikiran sama menghilangkan budaya BABS.
"STBM sebagai pendekatan kepada masyarakat. Intinya semua ini masalah bersama. Penyelesaiannya butuh peran serta masyarakat agar cepat berakhir," tutup Lilik
0 Response to "Kebiasaan BAB Sembarangan Ancam Nyawa Balita"
Post a Comment